[I just wanna fix it somehow. But how many times will it take? How many times will it take for me?
...to get it right.]
.
Sick Love
.
“Tadaima!”
Sakura sontak menoleh, menyambut pemilik suara yang sedari tadi ditunggunya. Air mukanya berubah menjadi sumringah ketika melihat sosok itu lagi.
“Okaeri, Naruto.”
Sebagai seorang istri yang baik, Sakura langsung membantu Naruto membawakan tas kerjanya. Wanita itu tak menyadari garis wajah Naruto yang tampak berbeda dari biasanya. Senyumnya tak lagi sama.
Setelah melepaskan sepatunya, Naruto langsung menuju ke dapur. Sepertinya dahaga telah membuatnya mengabaikan rutinitasnya setelah pulang kerja. Hal ini membuat Sakura menatap Naruto curiga. Kecurigaan ini semakin menjadi-jadi ketika tercium aroma minuman keras dari napas pria itu.
“Naru?” panggil Sakura sembari menepuk-nepuk sofa mereka, mempersilakannya untuk duduk di sana. Naruto menurut, sedang tak ingin berdebat.
Detik di mana Naruto mengistirahatkan sebagian tubuhnya di sofa tersebut, adalah detik di mana Sakura mendengar namanya dipanggil dengan nada itu lagi.
“Sakura…”
Sakura tertegun. Ia bukannya tidak menyadari perubahan nada suara tersebut, ia mengenal Naruto sampai ke dalam-dalamnya, ia tahu arti nada suara seperti ini.
Ada sebuah beban, putus asa serta kesedihan sekaligus di nada suaranya.
Sakura menatap mata suaminya dalam-dalam. Ia baru menyadari, cahaya mata itu kini telah meredup. Kelopak matanya hampir terkatup.
Sakura tak menjawab, lebih tepatnya tak sanggup menjawab. Ia tidak berusaha menjawab. Hanya dengan mendengar namanya dipanggil dengan nada suara itu lagi, senyumnya kembali pudar. Ia ingin menjadi pendengar yang baik, setidaknya untuk sekarang.
“Aku dipecat.”
Sakura menahan napasnya sejenak, menahan pita suaranya untuk tidak berteriak. Ya, pita suaranya memang tak jadi berteriak, akan tetapi, tetap saja, air mata itu secara tak terkendali merebak.
Sakura dapat mendengar helaan napas berat dari Naruto. Wanita itu tahu, ia salah. Ia tidak menyalahkan Naruto kalau pria itu tidak berusaha menenangkan tangisnya. Seharusnya ia-lah yang menjadi penopang Naruto saat ini, seharusnya ia-lah yang menjadi penolong Naruto saat ini.
Sakura membuka matanya, menemukan Naruto yang tengah menunduk dalam, bersimpuh menahan beban berat yang ditanggungnya sendirian. Jari-jari tangan wanita itu membingkai wajah rupawan Naruto, mengangkatnya dengan sisa-sisa harapan, mengajaknya bertahan dalam kubangan kekelaman.
Wanita itu menatap mata Naruto penuh arti, berusaha menyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun air mata tak bisa berhenti mengalir dari pelupuk matanya.
“Apapun yang terjadi, mari kita hadapi.” Sebuah senyum kembali merekah seiring tatapan mata Naruto yang kembali cerah.
Apapun yang terjadi, mari kita hadapi…
Sick Love
19 Sabtu Mei 2012
Posted in Uncategorized